Memang terkadang sulit memaafkan, apalagi jika kesalahan yang dilakukan teramat besar dan menyakitkan. Namun kesalahan itu bisa saja dimaafkan. Karena seiring berjalannya waktu, kita mungkin akan jadi lebih dewasa dan berbesar hati untuk memaafkan kesalahan orang lain yang pernah merugikan hidup kita. Akan tetapi, segala kesalahan yang telah dimaafkan tidak bisa dilupakan begitu saja. Bukan karena tidak tulus memaafkan, melainkan karena kita tidak bisa menghapus ingatan--kecuali kita terserang penyakit atau gangguan di otak, seperti kena amnesia, alzheimer, dsb--sehingga nama sendiri pun bahkan bisa lupa. Itu nasib. Apa boleh buat? Begitu pula dengan Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Pemaaf. Meski Dia mengetahui semua dosa dan kesalahan kita, Dia akan memaafkan kita yang bertobat kepada-Nya.
Orang beriman mesti memuliakan kedua orang tua, khususnya ibu. Dalam hadis disebutkan, Abu Hurairah bercerita: Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya pergauli dengan sebaik-baiknya?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapakah?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu sekali lagi bertanya, “Kemudian siapakah?” Beliau menjawab lagi, “Ibumu.” Orang tadi bertanya pula, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ayahmu. ” (HR Al-Bukhari dan Muslim). Bahkan, andai kata sang ibu adalah orang yang berbeda agama (non-Muslim) dan keyakinan, kita tetap harus memuliakan mereka dan tidak boleh memutus hubungan dengannya. Dalam hadis disebutkan, Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq bercerita: Ibuku datang ke tempatku sedang dia adalah seorang musyrik di zaman Rasulullah SAW, yaitu di saat berlangsungnya perjanjian Hudaibiyah antara beliau dan kaum musyrikin. Kemudian saya meminta f...